Pertama ibadah ritual dan kedua, ibadah sosial. Masalah itu dikupas oleh Ustadz Fakhrudin Arrozi MS dalam khotbah Idul Fitri di Universitas Muhammadiyah Lamongan, Senin (2/4/2022). Ustadz Fakhrudin Arrozi mengatakan, ibadah merupakan alasan manusia diciptakan di muka bumi ini. Allah swt berfirman di surat adz-Dzariyat: 56: Khutbah Jumat I Keutamaan Ibadah Sosial dalam Islamاَلْحَمدُ للهِ الَّذِى اَمَرَناَ بِاتِّبَاعِ اْلحَقِّ ِفى كُلِّ اُمُرٍ, أَشْهَدُاَنْ لاَاِلٰهَ اِلاَّالله ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَهَادَةً عَبْدٍشَكُوْرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىٰ اٰلِه وَصَحْبِهِ عَلىَ مَمَرِّالدُّهُوْرِ. ﴿أَمَّا بَعْدُ﴾ فَيَا عِبَادَ اللهِ. إِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَاَنْتُمْ sidang Jumat Hafidzakumullah!Ketika mengajarkan surat al-Ma’uun dan meminta para santri untuk mengulang-ulang surah tersebut, Kiai Ahmad Dahlan ditanya perihal mengapa surat itu saja yang dibaca dan diulang. Mendengar pertanyaan itu, Kiai Dahlan balik bertanya, “Apakah kalian sudah paham surat ini? Apakah kalian sudah mempraktekkannya?” Dahlan lantas meminta murid-muridnya untuk mencari orang paling miskin yang bisa ditemui di masyarakat, kemudian memandikannya dan sidang Jumat Hafidzakumullah!Kisah ini mengajarkan bahwa Alquran tidak hanya dibaca untuk penghias kesalehan pribadi namun juga dipraktekan dalam amal sosial. Menurut Yusuf al-Qorodhowi surat al-Ma’un ini berbicara mengenai keharusan adanya kaitan antara amal ritual dan amal sosial dalam beragama. Jika ditelisik lebih jauh, Alquran lebih banyak menekankan amal sosial daripada amal kalau kita kembali kepada ciri-ciri orang mukmin atau orang bertakwa, maka ditemukan di situ ibadah ritualnya satu tetapi ibadah sosialnya banyak. Misalnya “berbahagialah orang-orang yang beriman yaitu orang yang khusyuk dalam shalatnya dimensi ritual; yang mengeluarkan zakat dimensi sosial; orang yang berpaling dari hal-hal yang tidak bermanfaat dimensi sosial; dan mereka yang memelihara kehormatannya kecuali kepada istrinya dimensi sosial.” Anehnya kita sering mengukur orang takwa dari ritualnya ketimbang sosialnya. Kedua, kalau ibadah itu ibadah ritual, dan kebetulan pekerjaan itu bersamaan dengan pekerjaan yang lain yang mengandung dimensi sosial, kita diberi pelajaran mendahulukan yang sosial. Misalnya Nabi SAW pernah melarang membaca surah yang panjang-panjang di dalam shalat berjamaah. Nabi pernah memperpanjang waktu sujudnya hanya karena di pundaknya ada cucunya di situ. Bahkan dalam sebuah riwayat, ketika nabi sedang shalat kalau ibadah ritual kita bercacat, kita dianjurkan untuk berbuat sesuatu yang bersifat sosial. Misalnya ritual puasa. Kalau kita melanggar larangan puasa, maka salah satu tebusannya adalah member makan kepada fakir miskin. Juga ritual haji, kalau terkena dam, kita harus menyembelih binatang dan dagingnya dibagikan kepada fakir sebaliknya, kalau ada cacat dalam ibadah dimensi sosial, maka amal ibadah ritual tidak bisa dijadikan sebagai tebusan ibadah sosial itu. Misalnya, kalau kebetulan kita berbuat zalim terhadap tetangga, maka kezaliman itu tidak bisa dihapuskan dengan salat malam selama sekian sidang Jumat Hafidzakumullah!Bahkan banyak keterangan malah mengatakan bahwa orang yang shalatnya baik atau ibadah mahdhah-nya baik tetapi kemudian amalnya jelek secara sosial, maka Allah tidak menerima seluruh amalan ibadah mahdhah-nya tersebut. Seperti pernah seseorang datang kepada Rasulullah yang mengadukan ada seseorang yang puasa tiap hari dan shalat malam dengan rajin tetapi dia menyakiti tetangga dengan lidahnya. Apa kata Rasulullah SAW? “Perempuan itu di neraka,” demikian, perlulah kiranya kita memahami bahwa ibadah ritual apa pun dalam Islam pasti tujuannya ialah bukan untuk menambah kas pahala individu belaka namun juga untuk bederma bakti membantu manusia dan sidang Jumat Hafidzakumullah!Demikianlah, dan sekali lagi, kemuliaan pekerjaan sungguh tidak bisa dilihat dari jenisnya. Setelah memenuhi empat prinsip di atas, nilai sebuah pekerjaan akan diukur dari kualitas niat shahihatun fi an-niyat dan pelaksanaannya shahihatun fi at-tahshil. Itulah pekerjaan yang bernilai ibadah dan kelak akan mengantarkan pelakunya ke pintu قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُKhutbah Jumat I Keutamaan Ibadah Sosial dalam Islamالْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه. اللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّم. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْم إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُANBaca juga teks khutbah Jumat yang lain di sini. Penceramah: Drs. Hasrat Efendi Samosir, MA Hari/Tanggal : Senin, 27 Maret 2017 Judul ceramah : Ibadah Sosial vs Ibadah Ritual Dalam hidup ini dua macam ibadah. Ibadah ritual dan ibadah sosial. Atau dalam istilah lain, kesalehan individual dan kesalehan sosial. Salah satu surah yang menyuruh kita untuk melaksanakan ibadah sosial yaitu surah al-Ma'un, "Tahukah []
Bisa dikatakan puasa adalah ibadah sosial. Karena, tujuan terbesar diwajibkanya puasa Ramadhan adalah berkenaan dengan problematika sosial. Seperti keadilan sosial, wabah korupsi, kejujuran, amanah dan pengentasan kemiskinan. Sehingga, puasa Ramadan kali ini pun akan memiliki relevansi yang signifikan dengan hiruk-pikuk kondisi bangsa Indonesia saat ini. Puasa bukan sebatas hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan, bahkan memiliki hubungan horizontal antara manusia dengan sosial. Agar tidak terkesan basi, saya berusaha mengaitkan hubungan antara puasa dan sosial dengn perspektif baru yang mungkin belum pernah dikaji sebelumnya. Puasa dan keadilan adalah dua hal yang saling berhubungan yang tidak bisa dipisahkan antara satu dan lainya. Karena jika ditelisik lebih dalam dan rinci, keadilan adalah tujuan dari disyariatkanya puasa itu sendiri. Jika boleh saya katakan, puasa adalah sarana ataupun transportasi untuk menuju tujuan universal Tuhan yang di antaranya adalah keadilan sosial, kejujuran dan kesejahteraan. Begitu pun antara puasa dan korusi. Keduanya memiliki ikatan signifikan yang tidak dapat dipisahkan. Seseorang yang senantiasa menjalankan puasa, namun enggan untuk menanggalkan sifat korubnya, maka dia tidak bisa dikatakan telah menjalankan inti dari puasa tersebut. Karena inti dari berpuasa adalah meninggalkan berkorupsi itu sendiri. Hal tersebut bisa kita lihat dengan jelas dalam firman Tuhan “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” QS Al Baqarah 183 Pada ayat tersebut, secara eksplisit Tuhan mengatakan bahwa tujuan diwajibkanya berpuasa adalah “agar kamu bertaqwa”. Jika demikan, maka sebenarnya inti dari pada puasa tersebut adalah bertakwa itu sendiri. Sehingga, dalam ayat tersebut secara tidak langsung, seolah Tuhan mengatakan, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu bertakwa.” 1. Puasa dan Keadilan Takwa –sebagaimana menurut ulama– adalah mentaati perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Dan berbuat adil adalah salah satu yang diperintahkan oleh Tuhan. Sebagaimana dalam dalam firman-Nya “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” QS An-Nahl 90 Dengan berbuat adil berarti kita telah mentaati perintah Tuhan, dan mentaati perintah Tuhan adalah makna dari ketakwaan, dan ketakwaan adalah tujuan dari disyariatkanya berpuasa. Berarti, tujuan disyariatkanya berpuasa adalah keadilan itu sendiri. Jika demikian, maka —menurut saya– maksud dari QS Al Baqarah, ayat 183 di atas adalah, seolah Tuhan hendak mengatakan “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar” kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan menjauhi perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.” Sampai disini jelaslah bahwa tujuan puasa adalah agar manusia berbuat adil dan kebajikan lainya kepada sesama. Maka, sangatlah jelas bahwa puasa bukan semata hubungan vertikal manusi dengan Tuhan bahkan memiliki hubungan horizontal dengan sosial. Sehingga puasa bukan hanya bersifat teosentris, bahkan antroposentris. 2. Puasa dan Korupsi Sebagaimana takwa adalah mentaati perintah Tuhan, begitupun menjauhui larangan Tuhan yang berupa korupsi. Korupsi adalah sebentuk kejahatan dengan modus memakan harta orang lain dengan batil. Sehinggga, korupsi merupakan tindakan keji yang secara eksplisit dilarang oleh Tuhan. Sebagaimana yang dikatakan Tuhan dalam surat Al-Baqarah yang artinya “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui.” QS Al-Baqarah 188 Menjauhi korupsi adalah menjauhi larangan Tuhan, menjauhi larangan Tuhan adalah ketakwaan, ketakwaan adalah tujuan diwajibkanya puasa Ramadhan. Kesimpulanya, tujuan diwajibkanya puasa Ramadhan adalah menjahuhi tindakan keji berupa korupsi. Sehingga maksud dari surat al-Baqarah, ayat 183 di atas adalah, seolah Tuhan hendak mengatakan “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu tidak memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan cara yang batil yaitu korupsi.” 3. Puasa dan Pengentasan Kemiskinan Puasa sangat berhubungan dengan pengentasan kemiskinan. Menurut saya, diantara tujuan Tuhan melalui ibadah puasa adalah mengentaskan manusia dari segala kemiskinan. Artinya, mengentaskan kemiskinan termasuk inti dari puasa itu sendiri. Karena sebagaimana yang telah saya katakan di atas bahwa, inti dari puasa adalah takwa, sedang menyejahterakan manusia adalah bagian dari takwa. Dalam literatur fikih, seseorang yang merusakan puasanya dengan ber-making love di siang hari maka dia terkena kewajiban yang diantaranya adalah memerdekakan hamba sahaya ataupun memberi makan threescore orang fakir miskin. Pertanyaanya, kenapa memerdekakan hamba sahaya dan memberi makam fakir miskin? Menurut saya, karena tujuan Tuhan melalui puasa adalah menyejahterakan manusia yang di antaranya dengan memerdekakan budak dan membantu yang tak mampu. Sehingga wajar ketika seseorang merusak puasanya maka hukumanya juga memerdekakan budak dan membantu yang tak mampu. Karena itulah yang sebenarnya diinginkan Tuhan dari puasa yang dirusaknya. Seolah Tuhan berkata, “Yang saya kehendaki dari puasa adalah agar kalian meng-sejahterakan manusia. Sehingga, ketika kalian tidak berpuasa, maka kalian pun tetap harus menuejahterakan manusia.” Tuhan berfirman, “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya jika mereka tidak berpuasa membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” QS Al-Baqarah 114 Terlepas dari pro-kontra ulama dalam memahami ayat tersebut saya ingin mengatakan bahwa secara tegas inti ayat tersebut adalah mewajibkan kita agar mengsejahterakan umat manusia. Lalu mengapa dikatakan “dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”? Karena menurut saya, berpuasa cakupannya lebih universal daripada sekadar manyejahterakan manusia. Itu pun “jika kamu mengetahui”. Wallahu a’lam bish showaab. * Muh Amrullah adalah mahasiswa Al Azhar, Mesir. Penulis aktif di LBMNU Mesir dan tinggal di Nasr City, Kairo, Mesir. Electronic mail [email protected] sumber
Halitu berarti, setiap orang penting memahami dimensi sosial dari setiap ibadah ritual. Meski ibadah-ibadah ritual itu dilakukan dalam rangka membangun hubungan baik dengan Allah SWT ( hablun minallah ), tujuan akhirnya adalah agar seseorang memperbaiki akhlaknya pada sesama ( hablun minannas ). Pesan ini penting agar tidak terjadi kesenjangan Assalamualaikum, Bapak-bapak, saudara-saudara, Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,Kembali kita berkesempatan untuk bersyukur dan memuji Allah swt. yang telah menganugerahkan nikmat iman, nikmat Islam dan nikmat kesehatan. Selain itu kita panjatkan pula salam dan shalawat kepada rasulullah Muhammad saw. yang telah mendapat amanah untuk menyampaikan dakwah Islamiyah kepada saudara-saudara, Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,Dalam menciptakan mahluk, khususnya jin dan manusia, Allah mengisyaratkan bahwa tujuan dari penciptaan ini adalah untuk beribadah ; wama kholaqtul jinna wal insa illa liya’budun, “dan tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya.”Karena itu dalam kegiatan sehari-hari maka ibadah merupakan salah satu unsur dari sesuatu yang kita laksanakan. Pada kahikatnya ibadah ini bernuansa individu, misalnya dalam ibadah salat, ketika seseorang sudah bertakbir, allahuakbar, maka kemudian ditindaklanjuti dengan membaca doa iftitah, ada yang mengungkapkannya, inni wajjahtu, kalimat ini mengisyaratkan bahwa sesungguhnya aku menghadapkan diriku, ini bersifat pula ada yang membaca iftitah dengan doa yang lain, allahumma ba’id baini wa baina khotoyaya, disini juga bersifat individu ; Ya allah jauhkanlah antara diriku dan semua kesalahan-kesalahanku. Disini tidak satu pun ungkapan-ungkapan itu yang mengisyaratkan doa untuk orang itu ibadah pada hakikatnya bersifat individual. Disitu setiap insan diharapkan dapat melaksanakannya dengan baik, karena ibadah itu akan kembali pula untuk dirinya. Dalam ibadah, tentu banyak doa-doa yang diungkapkan, misalnya dalam salat. Paling tidak ada delapan doa yang kita panjatkan pada Allah. Doa itu semua untuk kepentingan sendiri. Namun sayang, sering kali ke delapan doa dalam satu rangkaian ini tidak dihayati atau mungkin ada pula yang tidak memahami maknanya.Yaitu ketika masing-masing duduk setelah sujud, disitu orang yang salat akan mengungkapkan ke delapan doa tersebut. Rabbighfirli ; ya Allah ampunilah segala dosaku, Warhamni; dan sayangilah aku, Wajburni; dan anugerahkan kebaikan-kebaikan pada diriku, Warfa’ni; dan angkatlah derajatku sehingga aku menjadi orang yang dihargai, yang terhormat, bukan orang yang dilecehkan, bukan orang yang dikucilkan, Warzukni, anugerahkan kepadaku rezeki yang banyak yang halal yang baik dan yang memberi berkah, Wahdini; tunjukkanlah padaku jalan yang lurus, Wa’afinii; anugerahkanlah kesehatan kepada diriku, Wa’fuannii; dan maafkanlah segala doa yang mencakup segala hal yang diperlukan dalam hidup ini, tapi sayang, banyak diantaranya yang ketika menguncapkan rangkaian doa ini dengan cepat-cepat, bahkan ketika bangun dari sujud doa yang panjang ini diucapkan singkat lalu diikuti sujud yang lain. Padahal itu memberikan dorongan batin untruk mencapai apa yang kita inginkan kepada Allah dimensi individual dalam seghala macam ibadah yang kita laksanakan karena pada hakikatnya ibadah itu adalah perintah Allah swt. kepada setiap insan secara demikian, ketika Allah swt. mengungkapkan salah satu ayat dalam surat al-Hujurat ya ayyuhannas inna khalaqnakum min zakari wa unsa, penggalan ayat ini mengisyaratkan walaupun ibadah yang diperintahkan Allah bersifat individual, namun pada sisi lain, setiap manusia mempunyai kecenderungan sosial, kecenderungan untuk hidup bersama. Sehingga ada yang mengungkapkan tidak mungkin seorang manusia akan hidup sendiri.’Mungkin pernah ada cerita Robinson Crusoe roman karya penulis Inggris Daniel Defoe ketika terdampar dia harus hidup sendiri. Tapi pada akhirnya Robinson pun tidak hidup sendiri. Ada pula temannya dalam kisah-kisah beri nama fraidi. Nah ini berarti bahwa kalaupun ibadah bersifat individual, namun jangan pula lupa untuk selalu hidup bernuansa itulah Rasulullah saw. dalam pesannya sholatun jamaati afdolu min sholatil fadzi salat sendirian yang dilakukan secara individu ternyata nilanya kalah dibanding dengan salat jamaah. Sehingga Rasul berpesan, salat jamaah itu lebih baik ketimbang salat sendirian, dengan adanya 27 kali lipat kebaikan yang akan diterima setiap mereka yang ikut berjamaah ini mengistyaratkan bawha meskipin salat itu ibadah individual, akan menjadi lebih baik bila dilaksanakan secara berjamaah. Lebih-lebih ketika tuntunan Rasul ketika salat, pada saat allahuakbar maka ketika itu pula masing-masing individu dianjurkan untuk memutus hubungan, menghilangkan komunikasi,dengan siapa saja. Bahkan dianjurkan, jangankan komunikasi yang berupa verbal, yang terdapat dalam pikiran pun dianjurkan untuk itu hanya dirinya dan Allah yang ada. Sehingga seseorang yang dapat meningkatkan kualitas salatnya hanya tertuju pada Allah swt., maka inilah kualitas yang terbaik, yang disebut sebagai kuaitas khusyuk. Dan khusyuk merupakan salah satu atau ciri utama dari orang-orang yang dapat disebut benar-benar mengisyaratkan dalam surat al-Mukminun ; Qod aflahal mu’minun, alladzinahum fi shollatihim khoosyi’un “Sungguh beruntung orang yang benar-benar beriman”. Dalam al-Qur’an ada dua kata untuk orang beriman. Yang pertama disebut alladzina amanu, diartikan dalam Bahasa Indonesia orang-orang yang beriman. Dan kedua al-mukminun, juga orang orang yang dalam kaidah tafsir, ternyata ada perbedaan diantara keduanya. Kalau alladzina amanu bisa menyangkut semua orang beriman, baik dia yang soleh atau yang tidak soleh. Yang selalu melaksanakan salat maupun yang jarang atau tidak pernah salat. Selagi dia mengucapkan Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, maka dia sudah beriman, dan termasuk alladzina amanu, tapi belum menjadi al-mukminun, karena salah satu karakter al-mukminun adalah alladzinahum fi shollatihim khoosyi’ dari itu ciri pertama dapat pula untuk mengukur diri sendiri , sudah saya menjadi al-mukminun atau baru sekedar menjadi alladzina kemudian, salat yang mestinya ditingkatkan pelaksanaannya menjadi salat yang khusuk untuk individu maka pada saat salat itu berakhir, Rasulullah memberikan tuntunan untuk mengucapkan salam. Saat mengucapkan salam, sambil diawali dengan menengok ke kanan kemudian menengok ke kiri. Ini artinya adalah bahwa ketika mengucapkan salam, seolah-olah kita dianjurkan mendoakan mereka yang ada di samping kanan atau kiri kita. Sehingga pada awalnya salat adalah masalah individu, tetapi selesai salat kita dianjurkan untuk kembali kepada fakta kehidupan, yaitu ini diawali dengan mendoakan; assalamualaikum warahmatullah baik kepada manusia maupun mahluk halus yang ada di samping kita. Dan diiringi dengan ucapan salam ke samping kiri. Ini artinya kita dikembalikan kepada kehidupan nyata, yaitu bertetangga, berteman, bermasyarakat. Kalau ibadah salat demikian, begitu pula yang terdapat dalam ajaran ibadah-ibadah yang lain. Ibadah zakat, ini juga dalam rangka kepedulian sosial. Ibadah puasa yang juga sifatnya individu namun dalam ibadah puasa itu ada anjuran-anjuran untuk menyempurnakannya dengan kebaikan-kebaikan pada bulan Ramadhan; banyak bersedekah, banyak menolong orang, banyak berinfak, ini dalam rangka dimensi sosial dari ibadah-ibadah individual tersebut. Ibadah haji demikian pula, sehingga mereka yang sudah berhaji dan umroh, tidak bisa dia bersifat individual. Pasti akan terkait dengan orang-orang lain yang juga melaksanakn ibadah, ataupun yang mendukung pelaksanaan ibadah sinilah tampaknya petunjuk tuntunan ajaran Allah swt. saling terkait. Yang kita teliti banyak yang bersifat individu, namun dibaliknya tercakup pula makna-makna sosial. Disitulah kita dalam kehidupan ini tidak dapat mengabaikan teman, saudara, masyarakat yang ada disekitar kita. Sehingga dengan ibadah itu kita dituntun untuk memiliki kepedulian sosial. Dengan demikian, hal-hal yang kita lakukan tidak hanya tertuju pada diri kita, tetapi juga kebaikan-kebaikan orang salat mengapa seseorang dianjurkan untuk meluruskan saf dan merapatkannya ini menujunkann bahwa merapatkan barisan itu sebagai indikasi memberi kesempatan pula kerpada orang lain yuntuk melaksanakan ibadah. Karena itu ibadah yang dianjurkan Allah swt. dalam beragam dimensinya pasti mencakup dua hal; yakni individual dan sosial. Hal ini dalam rangka membina diri kita agar memiliki kepeduliaan sosial terhadap sesama. Sejauh manakah ibadah yang bernuansa dua dimensi ini kita laksanakan?Semoga semua itu dapat membina diri kita menjadi orang yang punya empati terhadap lingkungan kita.—Disampaikan oleh Prof. Dr. Hamdani Anwar, MA. dalam khutbah Jumat di Mall Bellagio pada 24 April 2015. Mengapaibadah ritual harus sejalan dengan ibadah sosial - 12134986 fhjhgfadt fhjhgfadt 11.09.2017 B. Arab Sekolah Menengah Atas terjawab Mengapa ibadah ritual harus sejalan dengan ibadah sosial 1 Lihat jawaban Iklan Iklan niakurniawati25 niakurniawati25 Karena keduanya sama2 beribadah Iklan Iklan
Penceramah Drs. Hasrat Efendi Samosir, MA Hari/Tanggal Senin, 27 Maret 2017 Judul ceramah Ibadah Sosial vs Ibadah Ritual Dalam hidup ini dua macam ibadah. Ibadah ritual dan ibadah sosial. Atau dalam istilah lain, kesalehan individual dan kesalehan sosial. Salah satu surah yang menyuruh kita untuk melaksanakan ibadah sosial yaitu surah al-Ma’un, “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. Yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya. dan enggan menolong dengan barang berguna.” QS. Al-Ma’un, 107 1-7 Dibanding ibadah ritual, ibadah sosial sangat dianjurkan oleh Islam. Ada beberapa hal yang mendasari pentingnya ibadah ritual dalam Islam Ayat-ayat al-Qur’an lebih banyak bercerita tentang ibadah sosial ketimbang ibadah ritual. Ini bisa dilihat dari seringnya al-Qur’an menggandengkan antara kata iman dengan amal saleh. “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” QS. Al-Ashr, 103 3 Jika ibadah ritual ditinggalkan seperti orang yang tua yang tidak sanggup untuk puasa di bulan Ramadan, maka ia wajib membayar fidyah kepada fakir miskin. Ibadah ritual yang ditinggalkan, gantinya ibadah sosial. Ini juga sama dengan orang yang sudah suami istri melakukan hubungan suami istri harus membayar dengan puasa 60 hari berturut-turut atau memberikan makan fakir miskin 60 orang. Jika ada ibadah ritual dikerjakan berbarengan dengan ibadah sosial, maka ibadah ritual itu bisa diakhirkan atau dipercepat. Bukan ditinggalkan. Seperti ketika shalat berjamaah, maka si imam harus melihat bagaimana keadaan jamaahnya. Jika banyak anak kecil, maka dipercepatlah shalat agar tidak mengganggu shalat berjamaah. Hal ini pernah dilakukan Rasulullah ketika ia shalat berjamaah dengan sahabatnya, ia mempercepat shalat dari yang biasanya. Lalu sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, kenapa shalat dipercepat dari yang biasanya ya Rasulullah”? Tadi saya mendengar ada anak kecil menangis. Saya takut ibunya dan jamaah lain terganggu, maka saya percepat shalatnya. Selain itu, pernah juga suatu ketika Rasulullah terlambat melaksanakan shalat Ashar gara-gara mendamaikan dua suku yang bertengkar. Jadi, dalam hidup ini kita perlu melaksanakan ibadah sosial. Kesalehan sosial harus kita internalisasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Inilah yang dimaksud bahwa Islam itu Rahmatan li al-alamin. Views 3,442 Previous post Mencari Kebaikan Hidup 10/12/2017 Next post Mandiri dalam Bekerja 10/12/2017
Ibadahritual dan ibadah sosial harus dipajang dalam satu etalase yang sama, sehingga agama benar-benar hadir untuk memberi kedamaian bagi banyak pihak, menghindari wajah agama yang kontra poduktif terhadap kemaslahan publik. Kerusakan agama tidak lain dapat dilihat sebagai kegagalan melihat dualisme ibadah:. Itulah mengapa terdapat

Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya dan menjadi khalifah utusan di muka bumi. Tujuan untuk beribadah mengandung dimensi vertikal hablum minallah, sedangkan kata khalifah mengandung dimensi horisontal hablum minannas. Keduanya tentu saja tak dapat dipisahkan dan memiliki keterkaitan yang tak dapat dihindarkan. Ada yang beranggapan kesalehan ritual yang kaitannya dengan ibadah kepada Allah lebih penting daripada kesalehan sosial. Sehingga hidupnya hanya digunakan untuk fokus pada hablumminallah saja. Secara sosial mereka kehilangan kepedulian pada lingkungan sekitarnya, karena hanya berfikir menjalankan tugasnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Mereka melupakan hakikat tujuan diciptakannya manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi. Padahal Al-Qur’an mengajarkan pentingnya hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia. Ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan dengan Allah harus terjalin dengan baik, pun demikian halnya dengan hubungan sesama manusia, harus berjalan dengan baik pula. Dengan kata lain, kesalehan ritual-individual harus sejalan dengan kesalehan sosial. Ironisnya, keduanya tidak selalu dapat berjalan beriringan. Tak jarang kita temui orang-orang yang tampak saleh, kerap menunjukkan simbol-simbol agama, tetapi justru menodai agama dengan perilaku tercela. Shalat setiap hari, tetapi korupsi tak pernah berhenti. Haji dan umrah berkali-kali, tetapi abai dan tidak peduli dengan nasib para mustadh’afin, kaum fakir miskin. Rajin mengunjungi majelis taklim tetapi juga rajin menggunjing, memfitnah, menebar ujaran kebencian di sana-sini. Diriwayatkan, seorang sahabat Rasulullah pernah melaporkan bahwa ada orang yang sedemikian tekun beribadah, sehari-hari pekerjaannya di masjid tanpa henti. Nabi kemudian menanyakan siapa yang memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Pertanyaan itu dijawab, bahwa tidak ada. Ternyata, seseorang yang berlebih-lebihan dalam kegiatan ritual itu, oleh nabi sendiri, dianggap keliru. Dijelaskan bahwa, siapapun harus hidup sebagaimana lazimnya, yakni mencari rezeki, mengembangkan ilmu pengetahuan, memenuhi hak-hak keluarganya, dan seterusnya. Maka artinya, kesalehan ritual harus disempurnakan dengan jenis kesalehan lainnya. Juga di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa, orang yang melakukan shalat tetapi lalai akan shalatnya disebut sebagai pendusta agama dan mendapatkan ancaman masuk neraka. Hal ini disebutkan dalam Surat Al-maun فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ. "Maka celakalah orang yang shalat," الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ. "yaitu orang-orang yang lalai terhadap shalatnya," Pun juga sebaliknya, orang-orang yang hanya mengumpulkan dan membangga-banggakan hartanya, tetapi mengabaikan lingkungan sekitarnya yang kekurangan, tidak mempedulikan nasib kehidupan orang miskin dan anak yatim, maka neraka wail adalah tempatnya. Ancaman itu sedemikian berat, namun ternyata tidak selalu memperoleh perhatian. Kebanyakan dari kita hanya sibuk berdiskusi dan membincang tentang shalat khusu' dan berusaha menjalankan sesuai dengan contoh yang dilakukan oleh Rasulullah. Kegiatan tersebut, tentu bukan berarti tidak penting, akan tetapi masih ada lainnya yang juga tidak kurang urgennya, ialah bagaimana kesalehan ritual itu membuahkan kesalehan sosial. Islam dan Al-Qur’an menuntun manusia dalam tiga bangunan hubungan. Pertama, membangun hubungan dengan Allah. Kedua, memperkuat hubungan dengan dirinya dan yang terakhir, menyelaraskan hubungan dengan sesama manusia. Jika menelusuri substansi dari setiap konteks dari teks kesalehan tersebut maka akan lebih terasa dimensi-dimensi sosial yang dikandungnya. Sebagian besar pemeluk agama cenderung menampilkan formalitas ritual ibadahnya untuk menunjukkan jati diri mereka dalam beragama, mereka melakukan ketaatan beribadahnya kepada Allah dengan mengerahkan seluruh kemampuannya dalam melaksanakan ajaran agamanya. Tetapi pada saat yang sama mereka abai, mereka justru meninggalkan esensi ibadah yang sangat berharga dalam kesehariannya, sebuah ibadah yang mempunyai efek nilai sosial positif pada lingkungan sekitarnya. Dalam melaksanakan amal saleh untuk mendekatkan diri kepada Allah, tidak terbatas apa yang ada dalam rukun Islam yang lima saja. Ini menunjukkan bahwa kebaikan seseorang tidak cukup dengan melakukan kesalehan untuk dirinya sendiri. Tetapi akan lebih sempurna ketika ia melakukan kesalehan disamping untuk kepentingan dirinya sendiri, juga untuk kepentingan masyarakat di sekitarnya. Di antara wujud kesalehan sosial adalah lahirnya sikap cinta dan kasih sayang terhadap sesama. Dianggap sia-sia ibadah ritual seseorang, jika tidak disertai dengan ibadah sosial. Rajin shalat jamah di masjid, harus diimbangi dengan rajin sedekah, peduli dengan nasib kaum yang lemah. Rutin mengaji harus disertai dengan rutin berbagi kepada saudara dan tetangga yang membutuhkan. Tekun bermunajat memohon pertolongan Allah harus dibarengi dengan tekun memberi pertolongan kepada orang lain. Aktif mencari ilmu harus diikuti dengan aktif menyebarkan serta menyampaikannya kepada orang lain. Inilah wujud nyata dari kesalehan sosial. Sehingga hadirnya seseorang di tengah masyarakat, dapat memberi arti, makna serta manfaat bagi orang lain di pesan Nabi Saw, خَيْرُ الناسِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain”. HR. Ahmad. Pada akhirnya, kesalehan sosial bertujuan untuk mencapai nilai-nilai sosial melalui gerakan yang bermanfaat bagi masyarakat luas dan merupakan bagian dalam upaya untuk menghilangkan strata sosial yang timbul dari kepedulian sosial dari dalam diri masing-masing. Nurul Badruttamam, Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU

Adabeberapa jenis ibadah sosial yang bisa secara mudah dilakukan oleh seorang muslim, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Sedekah. Sedekah merupakan salah satu jenis ibadah sosial yang menyangkut antara hubungan seorang manusia dengan manusia. Ibadah yang dilakukan memberikan nilai kemanfaatan bagi orang yang mendapatkan sedekah.

Jakarta - Salahuddin Wahid, pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, kembali mengingatkan dalam Ramadan ini soal ibadah ritual dan perilaku sosial. Inilah tausiahnyaHadis sahih riwayat An-Nasai, Baihaqi, Ibnu Huzaimah, dan Thabrani dari Abi Ubaidah RA "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Puasa adalah perisai selama yang bersangkutan tidak merusak'. Lalu ada pertanyaan, 'Dengan apa merusaknya?' Jawab Rasulullah 'Dengan berbohong atau bergunjing'.”Kejujuran adalah bagian utama dari ketakwaan kita. Kita pun menjalani puasa kita dengan penuh kejujuran. Rasanya tidak ada orang yang memulai harinya dengan makan sahur, lalu di luar rumah dia makan/minum dengan sembunyi-sembunyi. Penelitian Riaz Hassan dari Flinders University, Australia, pada 2005 mengungkapkan bahwa muslim Indonesia mempunyai kesalehan ritual tinggi. Ia menemukan fakta bahwa 96 persen umat Islam di Indonesia menjalankan salat lima waktu, Mesir 90 persen, Pakistan 56 persen, dan Kazakstan 5 persen. Umat Islam yang berpuasa di Mesir dan Indonesia mencapai 99 persen, Pakistan 93 persen, dan Kazakstan 19 persen. Sebanyak 94 persen muslim Indonesia membayar zakat, Mesir 87 persen, Pakistan 58 persen, dan Kazakstan 49 penelitian di atas benar adanya. Dibandingkan saat saya SMA atau kuliah 40-50 tahun lalu, jumlah warga muslim Indonesia yang saleh secara ritual jelas fakta positif di atas tampaknya tidak sejalan dengan perilaku sosial umat Islam di Indonesia. Banyak pemeluk Islam di Indonesia tidak mengaitkan ibadah ritual salat, puasa, haji dengan perilaku sosial secara luas. Puasa lebih dilihat sebagai kewajiban yang harus dijalankan tanpa melihat bagaimana mutu puasa umat Islam tidak terlalu peduli akan dampak positif puasa itu terhadap kehidupan sosial ataupun kehidupan profesional. Kita tidak risau apakah puasa kita itu hanya puasa fisik, bukan puasa batin. Padahal Rasulullah SAW sudah memperingatkan bahwa banyak orang berpuasa hanya mendapatkan haus dan lelah. Penyalahgunaan kekuasaan sudah menjadi kebiasaan di mana-mana, apa pun jabatan kita. Pejabat pemerintah sipil, militer, Polri sudah sejak dulu menyalahgunakan kekuasaan. Anggota DPR/DPRD kini mengikuti jejak yang salah arah tersebut. Pejabat pengadilan dan pengacara juga sudah ketularan virus tersebut. Perizinan menjadi industri yang menguntungkan bagi para penguasa. Industri ini aman dan tidak mudah dilacak. Bagi para pelakunya, hal itu dianggap bukan penyalahgunaan mendidik kita mengendalikan hawa nafsu. Cukup banyak yang berhasil. Mengapa pengendalian diri itu hanya bertahan dalam sebulan? Banyak ceramah serta tulisan yang bagus dan menyentuh hati. Namun hal itu tampaknya belum bisa mempengaruhi kita. Mengapa bisa terjadi seperti itu?Apakah dalam perenungan malam hari pada bulan Ramadan kita berani dan mampu mawas diri dengan teliti sehingga menyadari dosa sosial dan dosa profesional yang telah kita lakukan dan bersungguh-sungguh untuk bertobat dan tidak mengulanginya? Semoga pada Ramadan ini Allah bermurah hati untuk menyadarkan diri kita sehingga kita mampu menelisik dosa-dosa kita.
Nilaikedua ibadah, baik ritual dan sosial sama-sama urgen dan penting dalam pandangan Islam. Keduanya perlu dan bahkan wajib dilakukan oleh setiap muslim yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Betapa signifikan kedua ibadah itu dalam Islam tergambar di berbagai ayat Al-Qur'an yang senantiasa menyandingkan kewajiban mendirikan ibadah shalat Suatu hari Sa’ad bin Abi Waqash menyaksikan peristiwa yang tidak biasa. Nabi Muhammad membagi-bagi sesuatu kepada Arab Badui tapi tidak merata. Ada yang dapat bagian, ada yang tidak. Maka Saad bertanya kepada Rasulullah “Wahai Rasulullah, mengapa engkau beri mereka bagian dan engkau tidak berikan kepada orang itu?, Demi Allah saya menganggap dia itu mukmin sebagaimana yang lain.” Rasul menjawab, “Jangan mengatakan dia seorang Mukmin, tapi katakan dia seorang Muslim.” Peristiwa ini kemudian diabadikan di dalam al-Qur’an قَالَتِ ٱلْأَعْرَابُ ءَامَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا۟ وَلَٰكِن قُولُوٓا۟ أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ ٱلْإِيمَٰنُ فِى قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَا يَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَٰلِكُمْ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ “Orang-orang Arab Badui itu berkata “Kami telah beriman”. Katakanlah “Kamu belum beriman, tapi katakanlah kami telah ber-Islam’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. al-Hujurat 12 Dari ayat ini pahami bahwa beragama itu ada tingkatannya, urutan pertama adalah Islam, yang kedua baru iman. Apa itu Islam ? Secara definisi Islam berarti; tunduk, berserah diri dan menyelamatkan. Tunduk dalam arti apapun yang terjadi di alam semesta termasuk manusia ayat tanda atau ayat kauniyah tanda-tanda alam yang menunjukkan akan adanya Sang Pencipta, yaitu Allah dan kekuasaan-Nya, dan alam semesta ini tunduk pada hukum-hukum Allah. Berserah diri bermakna; tidak bisa setengah-setengah. Sebab ber-Islam itu melibatkan seluruh jiwa dan raga. Orang tidak bisa hanya mengikuti salah satu ajarannya dan meninggalkan yang lain yang tidak disukai, tidak bisa juga hanya melakukan ibadah spritual lalu meninggalkan yang ritual. Sedangkan yang dimaksud menyelamatkan adalah orang yang memeluk Islam hidupnya akan selamat dan menyelamatkan orang lain, ini makna dari aslama yang terbentuk dari kata salima. Islam terkait dengan amalan-amalan yang sifatnnya zahir, dimulai dengan syahadat dan diikuti oleh empat rukun lainnya yaitu shalat, zakat, puasa, dan haji. Amalan-amalan itu disebut dengan ibadah mahdhah murni. Dinamakan murni karena ini murni dari Allah dan tidak ada tempat untuk kreasi manusia. Orang Islam dalam hal pengamalan ada tingkatannya. Ada yang ber-Islam yang sekedar mengucap kalimat syahadat saja, tapi setelah itu dia dia tidak menjalankan rukun yang Islam yang lainnya. Adapula yang setelah syahadat hanya hanya shalat saja, ada yang zakat saja, atau hanya suka puasa saja, yang lain tidak dilaksanakan. Ada juga yang sudah melaksanakan semuanya, tapi kehidupan sehari-harinya masih melakukan perbuatan dosa. Disisi lain ada yang sudah mengerjakan semua rukun Islam, tapi tingkatannya hanya sekedar menjalankan kewajiban dan biasanya disertai rasa berat hati dan keluh kesah. Ada pula yang masih tidak konsisten dalam menjalankan shalat, kadang shalat kadang tidak. Dalam urusan shalatnya misalnya, shalat yang seharusnya berfungsi untuk mencegah perbuatan maksiat, tapi tidak seperti itu kenyataanya. Raganya shalat, tapi lisannya masih suka berbohong, tangannya berbuat zalim, korupsi, mencuri, tidak amanah, bahkan membunuh. Ketika berzakat harapannya bukan mencari ridha Allah, tapi agar dipuji oleh orang banyak riya’. Puasa Ramadhannya hanya menahan lapar dan dahaga siang hari di bulan Ramadhan, tapi ketika Ramadhan berlalu, berlalu pula ketaatannya kepada Allah. Hajinya pun demikian, rasa kepekaan sosialnya tidak bertambah. Dia berangkat haji, tapi disaat yang sama tetangganya kelaparan, butuh bantuan dan dia tidak peduli. Dalam kata lain, semua ibadah-ibadah mahdhah diatas tidak mempunyai pengaruh apapun baik secara pribadi, terlebih sosial. Hanya sebatas ritual yang menggugurkan kewajiban, tidak lebih. Itu semua adalah contoh manakala ber-Islam kita tidak dibarengi dengan keimanan. Bagaimana Beragama Pada Tingkat Iman? Iman itu mengandung makna keyakinan dalam hati, ikrar dengan lisan dan yang terpenting adalah pengamalan dengan anggota tubuh alias perbuatan. Ber-Iman bisa diibaratkan seperti orang yang mencintai. Cinta adalah pekerjaan hati. Jika seorang mencintai maka ukuran cintanya adalah perbuatan. Orang yang mencintai sesuatu pasti ingin melakukan apa saja agar yang dicintai senang, dan dia berusaha untuk meninggalkan apapun agar yang di cintai tidak murka kepadanya. Ber-Iman kepada Allah dan Rasul-Nya berarti mencintai Allah dan Rasul-Nya. Seorang mukmin, jika dia mencintai Allah dan Rasul, pasti dia tidak akan melakukan apapun kecuali untuk keridahaan Allah; dia tidak juga mengerjakan apa yang Allah benci. Bahkan dalam kehidupannya dia tidak mencintai atau membenci siapa atau apapun, kecuali karena Allah memerintahkan hal itu. Iman itu sebagaimana yang disebut dalam hadits Rasul tujuh puluh atau enam puluh lebih cabang, semua itu membentuk sebuah kesatuan yang sering kita sebut dengan amal shalih. Contoh amal shalih yang merupakan cabang dari itu iman itu seperti; meninggalkan riba, jujur, baik dengan tetangga, bakti kepada orangtua, menegakaan pemerintahan yang adil, amar ma’ruf nahyi mungkar, menghindari sikap boros, mendidik anak-anak dengan baik, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan masih banyak lagi. Jadi, orang yang beriman dengan sempurna pasti orang baik, karena keimanannya kepada Allah dibuktikan dengan semua perilakunya, dia tidak mungkin berbuat jahat kepada siapapun. Baginya perbuatan jahat itu adalah dosa, dan setiap dosa pasti membawa dampak buruk bagi imanannya. Orang ber-Iman pasti Islam. Tapi orang Islam belum tentu beriman. Artinya, bisa saja secara fisik zahir seorang itu memang kelihatan rajin shalat, membayar zakat dan puasa. Tapi hatinya belum tentu tunduk dan taat pada aturan Allah. Banyak aturan Allah yang dia terjang tanpa rasa bersalah, nafsunya masih dijadikan kompas penuntun mengarungi kehidupan. Kemajuan Bangsa Barat dan Konsep Dasar Islam Ada kisah menarik dari seorang ulama dan intelektual Muslim, namanya Muhammad Abduh. Pada tahun 1884 beliau berkesempatan mengunjungi Kita Paris- Prancis. Pada waktu itu Paris telah menjadi kota yang teratur rapi, indah dan bersih. Penduduknya memiliki etos kerja tinggi atau pekerja keras, ramah terhadap tamu, bersahabat dan negaranya berkembang maju. Dari kunjungan ini Muhammad Abduh berkesimpulan untuk mencoba membandingkan dengan kondisi kaum muslimin, beliau berkata; “Ra’aitu al-Islam wa lam ara Musliman wa ra’aitu al-Muslimin fi al-Arab wa lam ara Islaman”, artinya “Aku melihat Islam di Paris tapi aku tidak melihat orang Muslim disana, dan aku melihat Muslim di Arab negara Islam tapi aku tidak melihat Islam di sana”. Maka pertanyaan besar yang kemudian muncul di benak kita, kenapa realita kaum muslimin hari ini jauh tertinggal dari bangsa Paris, atau Barat secara umum? Jawabannya, apa yang orang-orang Prancis lakukan semuanya ada pada cabang iman yang tujuh puluh itu, yang menjadi konsep dasar bagi seorang muslim. Masalahnya, realitas kualitas ibadah umat Islam masih di taraf Islam belum Iman. Kalaupun menyatakan ber-Iman itu baru sebatas pengakuan saja. Jika seorang mukmin beragamanya sampai pada tingkatan iman, maka dengan mengamalkan cabang-cabang keimanan yang jumlahnya tujuh puluh itu dalam kehidupan sehari-hari dan menjaga konsistensi keimanan itu, maka mustahil umat Islam lemah, miskin, tertindas. Tidak mungkin juga orang Islam menjadi perusak lingkungan, berbuat zalim, berselisih antar sesama. Maka ketika kita, kaum muslimin ingin bangkit mengejar ketertinggalan, kita hanya’ perlu kesungguhan dalam mengamalkan Islam dibarengi dengan dengan penghayatan iman, tidak perlu silau dengan ragam ideologi diluar Islam. Wallahu a’lam bi ash-shawwab. Baca Juga Hak-Hak Buruh dalam Islam Tapifakta positif di atas tampaknya tidak sejalan dengan perilaku sosial umat Islam di Indonesia. Banyak pemeluk Islam di Indonesia tidak mengaitkan ibadah ritual (salat, puasa, haji) dengan perilaku sosial secara luas. Puasa lebih dilihat sebagai kewajiban yang harus dijalankan tanpa melihat bagaimana mutu puasa itu.
KH Ahmad Mustofa Bisri pernah mempopulerkan istilah saleh ritual dan saleh sosial. Yang pertama merujuk pada ibadah yang dilakukan dalam konteks memenuhi haqqullah dan hablum minallah seperti shalat, puasa, haji dan ritual lainnya. Sementara itu, istilah saleh sosial merujuk pada berbagai macam aktivitas dalam rangka memenuhi haqul adami dan menjaga hablum minan nas. Banyak yang saleh secara ritual, namun tidak saleh secara sosial; begitu pula Mus tentu tidak bermaksud membenturkan kedua jenis kesalehan ini, karena sesungguhnya Islam mengajarkan keduanya. Bahkan lebih hebat lagi; dalam ritual sesungguhnya juga ada aspek sosial. Misalnya shalat berjamaah, pembayaran zakat, ataupun ibadah puasa, juga merangkum dimensi ritual dan sosial sekaligus. Jadi, jelas bahwa yang terbaik itu adalah kesalehan total, bukan salah satunya atau malah tidak dua-duanya. Kalau tidak menjalankan keduanya, itu namanya kesalahan, bukan kesalehan. Tapi jangan lupa, orang salah pun masih bisa untuk menjadi orang saleh. Dan orang saleh bukan berarti tidak punya saat yang sama, kita harus akui seringkali terjadi dilema dalam memilih skala prioritas. Mana yang harus kita utamakan antara ibadah atau amalan sosial. Pernah di Bandara seorang kawan mengalami persoalan dengan tiketnya karena perubahan jadual. Saya membantu prosesnya sehingga harus bolak balik dari satu meja ke meja lainnya. Waktu maghrib hampir habis. Kawan yang ketiga, yang dari tadi diam saja melihat kami kerepotan, kemudian marah-marah karena kami belum menunaikan shalat maghrib. Bahkan ia mengancam, “Saya tidak akan mau terbang kalau saya tidak shalat dulu”. Saya tenangkan dia, bahwa sehabis check in nanti kita masih bisa shalat di dekat gate, akan tetapi kalau urusan check in kawan kita ini terhambat maka kita terpaksa meninggalkan dia di negeri asing ini dengan segala kerumitannya. Lagi pula, sebagai musafir kita diberi rukhsah untuk menjamak shalat maghrib dan isya’ nantinya. Kita pun masih bisa shalat di atas pesawat. Kawan tersebut tidak mau terima baginya urusan dengan Allah lebih utama ketimbang membantu urusan tiket kawan yang lain. Saya harus membantu satu kawan soal tiketnya dan pada saat yang bersamaan saya harus adu dalil dengan kawan yang satu lagi. Tiba-tiba di depan saya dilema antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial menjadi Yusuf al-Qaradhawi mencoba menjelaskan dilema ini dalam bukunya Fiqh al-Awlawiyat. Beliau berpendapat kewajiban yang berkaitan dengan hak orang ramai atau umat harus lebih diutamakan daripada kewajiban yang berkaitan dengan hak individu. Beliau juga menekankan untuk prioritas terhadap amalan yang langgeng istiqamah daripada amalan yang banyak tapi terputus-putus. Lebih jauh beliau berpendapat “Fardhu ain yang berkaitan dengan hak Allah semata-mata mungkin dapat diberi toleransi, dan berbeda dengan fardhu ain yang berkaitan dengan hak hamba-hamba-Nya. Ada seorang ulama yang berkata, "Sesungguhnya hak Allah dibangun di atas toleransi sedangkan hak hamba-hamba-Nya dibangun di atas aturan yang sangat ketat." Oleh sebab itu, ibadah haji misalnya, yang hukumnya wajib, dan membayar utang yang hukumnya juga wajib; maka yang harus didahulukan ialah kewajiban membayar utang.” Ini artinya, untuk ulama kita ini, dalam kondisi tertentu kita harus mendahulukan kesalehan sosial daripada kesalehan ritual. Kita juga dianjurkan untuk mendahulukan amalan yang mendesak daripada amalan yang lebih longar waktunya. Misalnya, antara menghilangkan najis di masjid yang bisa mengganggu jamaah yang belakangan hadir, dengan melakukan shalat pada awal waktunya. Atau antara menolong orang yang mengalami kecelakaan dengan pergi mengerjakan shalat Jum'at. Pilihlah menghilangkan najis dan menolong orang yang kecelakaan dengan membawanya ke Rumah Sakit. Sebagai petugas kelurahan, mana yang kita utamakan shalat di awal waktu atau melayani rakyat yang mengurus KTP terlebih dahulu? Atau mana yang harus kita prioritaskan di saat keterbatasan air dalam sebuah perjalanan menggunakan air untuk memuaskan rasa haus atau untuk berwudhu'. Wudhu' itu ada penggantinya, yaitu tayammum. Tapi memuaskan haus tidak bisa diganti dengan batu atau debu. Begitu juga kewajiban berpuasa masih bisa di-qadha atau dibayar dengan fidyah dalam kondisi secara medis dokter melarang kita untuk berpuasa. “Fatwa” dokter harus kita utamakan dalam situasi ini. Ini artinya shihatul abdan muqaddamun ala shihatil adyan. Sehatnya badan diutamakan daripada sehatnya agama. Dalam bahasa Abdul Muthalib, kakek Rasulullah, di depan pasukan Abrahah yang mengambil kambing dan untanya serta hendak menyerang Ka’bah “Kembalikan ternakku, karena akulah pemiliknya. Sementara soal Ka’bah, Allah pemiliknya dan Dia yang akan menjaganya!” Sepintas terkesan hewan ternak didahulukan daripada menjaga Ka’bah; atau dalam kasus tiket di atas seolah urusan shalat ditunda gara-gara urusan pesawat; atau keterangan medis diutamakan daripada kewajiban berpuasa. Inilah fiqh prioritas!Syekh Yusuf al-Qaradhawi juga menganjurkan untuk prioritas pada amalan hati ketimbang amalan fisik. Beliau menulis“…Kami sangat heran terhadap konsentrasi yang diberikan oleh sebagian pemeluk agama, khususnya para dai yang menganjurkan amalan dan adab sopan santun yang berkaitan dengan perkara-perkara lahiriah lebih banyak daripada perkara-perkara batiniah; yang memperhatikan bentuk luar lebih banyak daripada intinya; misalnya memendekkan pakaian, memotong kumis dan memanjangkan jenggot, bentuk hijab wanita, hitungan anak tangga mimbar, cara meletakkan kedua tangan atau kaki ketika shalat, dan perkara-perkara lain yang berkaitan dengan bentuk luar lebih banyak daripada yang berkaitan dengan inti dan ruhnya. Perkara-perkara ini, bagaimanapun, tidak begitu diberi prioritas dalam agama ini.”Dengan tegas beliau menyatakan“Saya sendiri memperhatikan -dengan amat menyayangkan- bahwa banyak sekali orang-orang yang menekankan kepada bentuk lahiriah ini dan hal-hal yang serupa dengannya -Saya tidak berkata mereka semuanya- mereka begitu mementingkan hal tersebut dan melupakan hal-hal lain yang jauh lebih penting dan lebih dahsyat pengaruhnya. Seperti berbuat baik kepada kedua orangtua, silaturahim, menyampaikan amanat, memelihara hak orang lain, bekerja yang baik, dan memberikan hak kepada orang yang harus memilikinya, kasih-sayang terhadap makhluk Allah, apalagi terhadap yang lemah, menjauhi hal-hal yang jelas diharamkan, dan lain-lain sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang beriman di dalam kitab-Nya, di awal surah al-Anfal, awal surah al-Mu'minun, akhir surah al-Furqan, dan lain-lain.”Kesalehan ritual itu ternyata bertingkat-tingkat. Kesalehan sosial juga berlapis-lapis. Dan kita dianjurkan dapat memilah mana yang kita harus prioritaskan sesuai dengan kondisi dan kemampuan kita menjalankannya. Wa Allahu a’lam Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School
mU89.
  • gr841pujlc.pages.dev/224
  • gr841pujlc.pages.dev/353
  • gr841pujlc.pages.dev/225
  • gr841pujlc.pages.dev/311
  • gr841pujlc.pages.dev/233
  • gr841pujlc.pages.dev/55
  • gr841pujlc.pages.dev/192
  • gr841pujlc.pages.dev/246
  • mengapa ibadah ritual harus sejalan dengan ibadah sosial